Ada Pungutan untuk Percepat Antrean Solar di SPBU Matali? Ini Keterangan Warga dan Pihak Pengawas Lapangan

Imediantara,Kotamobagu — Keluhan masyarakat terkait sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar di SPBU Matali dikait-kaitkan dengan dugaan adanya pungli diareal antrian.

Sejumlah warga mengaku menemukan adanya dugaan pungutan oleh kelompok pemuda yang berada di sekitar area SPBU, yang disebut-sebut dapat memberikan akses pelayanan lebih cepat bagi kendaraan tertentu.

Berdasarkan keterangan sejumlah warga, kendaraan yang mengikuti antrean biasa harus menunggu berjam-jam bahkan hingga beberapa hari, sementara terdapat informasi bahwa pembayaran sejumlah uang dapat membuat kendaraan memperoleh akses lebih cepat melalui jalur tertentu.

Seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengaku awalnya tidak mengetahui adanya praktik tersebut. Ia baru mendapatkan informasi setelah beberapa kali datang dan mengantre di SPBU Matali namun tidak kunjung mendapatkan Solar.

“Kita mulai tau setelah kurang lebih 2 kali ba antri di Pertamina Sinindian kong ndak ja badapa Solar. Kong teman satu kerja yang kase tau bahwa supaya mobadapa babayar jo Rp50 ribu pa pemuda di dalam Pertamina situ,” ungkapnya.

Menurut warga tersebut, terdapat dua nozzle yang melayani pengisian Solar. Jalur sebelah kanan disebut melayani antrean umum tanpa pungutan, namun panjangnya antrean membuat masyarakat harus menunggu dan bergantung pada kondisi antrean.

Sementara itu, warga mengaku mendapat informasi bahwa kendaraan yang ingin memperoleh pelayanan lebih cepat dapat memberikan uang kepada pemuda yang berada di sekitar lokasi dan kemudian diarahkan ke nozzle sebelah kiri.

“So 2 hari kita blum dapa ba isi Solar. Biar cuma bayar Rp50 ribu kong mo ambe jalur kanan iko dapa, kita nimau karena so merugikan,” tambahnya.

Keluhan serupa juga disampaikan pelanggan lainnya. Bahkan, seorang warga mengaku telah beberapa hari mengantre menggunakan kendaraan pribadi namun belum mendapatkan Solar.

“Bagaimana mau isi minyak bayar dulu, ini kan sudah tidak benar republik ini,” tuturnya.

Warga tersebut juga menyebut antrean telah berlangsung selama beberapa hari.

“Sudah 3 hari antrean sampe depan sudah habis,” ungkapnya.

Menurutnya jika kondisi tersebut benar terjadi, persoalannya bukan hanya mengenai panjangnya antrean, tetapi juga menyangkut kesetaraan akses masyarakat terhadap pelayanan BBM.

Sebab, apabila satu jalur melayani kendaraan dalam jumlah terbatas sementara jalur lainnya dapat memberikan akses lebih cepat kepada kendaraan tertentu, maka masyarakat yang bertahan dalam antrean umum berpotensi harus menunggu lebih lama.

Ilustrasinya sederhana: ketika satu nozzle hanya mampu melayani satu kendaraan dalam satu waktu, sementara jalur lain dapat melayani beberapa kendaraan secara bergantian, distribusi pelayanan berpotensi tidak berjalan seimbang.

Pihak SPBU Bantah Ada Pungutan

Sementara itu, Pengawas Lapangan SPBU Matali, Wawan, saat dikonfirmasi di kantornya membantah adanya praktik pungutan untuk mempercepat antrean Solar.

Menurut Wawan, pihak SPBU tidak mengetahui adanya praktik ilegal berupa pembayaran kepada pihak tertentu untuk memperoleh pelayanan lebih cepat.

“Kalau untuk torang, itu ndak tau masalah itu. Tapi kalau dorang bilang ada pungli di SPBU itu ndak ada,” tegasnya.

Terkait keberadaan kelompok pemuda yang menggunakan rompi oranye di sekitar lokasi, Wawan menjelaskan bahwa mereka merupakan pemuda setempat yang secara sukarela membantu mengatur kendaraan dan kondisi lalu lintas di sekitar SPBU.

“Kalau dorang yang dimuka situ memang ada koordinasi. Dorang yang bantu juga pengguna jalan di sini. Dorang pe sukarela itu babantu,” jelasnya.

Menurut Wawan, pengaturan tersebut dilakukan karena antrean kendaraan Solar dan Pertalite dapat menyebabkan kemacetan apabila tidak diatur.

“Karena dorang lia kalau mo kase sama-sama itu antrean Solar dengan Pertalite lebeh macet. Jadi itu jalur ada ator, kase ka atas laeng, yang laeng boleh di sini cuma ndak panjang,” ungkapnya.

Wawan kembali menegaskan bahwa pihak SPBU tidak mengetahui adanya pungutan sebagaimana informasi yang disampaikan sejumlah warga.

“Karena SPBU melayani masyarakat,” tutupnya.

Namun hingga berita ini diterbitkan, kelompok pemuda yang disebut-sebut mengatur antrean kendaraan dan diduga menerima uang dari pelanggan belum berhasil dikonfirmasi.(*)

Read Previous

Kapolres Boltim Golfried Hasiholan Pakpahan Pimpin Hari Kesaktian Pancasila

Most Popular