Kisah Sang Anak Batak Yang Kini Memegang Tongkat Komando Polres Boltim

BOLTIM – Di tanah kelahirannya di Sumatera Utara, kecil Golfried Hasiholan Pakpahan sering mendengar pesan orang tuanya.

“Anak Batak tidak takut menghadapi kebenaran, dan tidak pernah berlutut pada ketidakadilan.”

Kata-kata itu tertanam kuat di hatinya, menjadi cahaya yang menuntun langkahnya menembus ribuan kilometer hingga sampai ke ujung Sulawesi Utara.

Ia tumbuh bukan dari kemewahan, melainkan dari kerja keras dan disiplin yang ditempa sejak dini. Memilih mengabdi pada negara lewat institusi Polri.

ia melangkahkan kaki masuk Kepolisian dengan satu tekad, menjadi pelindung yang berani, adil, dan tak memihak siapa pun kecuali pada hukum dan kebenaran.

Bakat dan ketekunannya mengantarkannya masuk ke satuan elit Densus 88 Anti Teror, Di sana, nyawa menjadi taruhan setiap bertugas. Ia dilatih menjadi penembak jitu, diaji menghadapi situasi paling berbahaya dengan kepala dingin, dan belajar bahwa kekuatan sejati bukan untuk menindas yang lemah, tapi untuk membela yang tertindas, Berbagai operasi berisiko tinggi dilalui dengan gemilang, membuktikan bahwa keteguhan hati anak Batak tak pernah goyah.

Pertengahan Tahun 2026, takdir membawanya ke wilayah Bolaang Mongondow Timur, Sebagai AKBP Golfried Hasiholan Pakpahan, ia dipercaya memegang tongkat komando sebagai Kapolres Boltim, Banyak bertanya, “Apa yang dibawa anak Batak ini ke tanah kami,”

Jawabannya ia tunjukkan lewat tindakan, Ia tak datang dengan sikap kaku orang asing, melainkan dengan kerendahan hati mendengar keluh kesah warga.

Ketegasan yang dulu diasah di medan tugas berat kini ia gunakan untuk menegakkan aturan tanpa pandang bulu, termasuk menatap lurus kasus yang dianggap “sulit” dan diduga memiliki perlindungan.

Ia pun membuktikan keahlian lamanya tetap terjaga, tak lama menjabat, ia sabet Juara II Kejuaraan Menembak Kapolda Cup 2026, mengingatkan semua orang bahwa sang penembak jitu kini memegang kendali keamanan wilayah.

Di momen HUT Bhayangkara ke-80, ia berpesan pada jajarannya dengan logat yang masih terasa kental.

“Kita datang untuk melayani, bukan ditakuti, Hukum itu tajam seperti parang, tapi harus diayunkan dengan adil, Bagi yang benar, lindungi sampai mati, Bagi yang salah, tak peduli siapa pun dia, kita hadapi dengan berani.”

Kini, nama Pakpahan bukan sekadar nama keluarga Batak. Di tanah Boltim, ia menjadi simbol harapan, bukti bahwa tekad baja, kejujuran, dan keberanian berdiri di garis lurus, bisa membuat siapa pun diterima, dihargai, dan menjadi pelindung sejati bagi semua orang, di mana pun ia berpijak.

(Andry)

Read Previous

Dikonfirmasi Terkait Kasus PT Xinfeng, Kasat Reskrim Polres Bolmong Belum Bersedia Berikan Tanggapan

Most Popular