BOLMONG – Bencana banjir bandang melanda dua desa sekaligus, yaitu Desa Solimandungan Satu dan Desa Solimandungan Dua, Kecamatan Bolaang, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, pada Rabu (27/05/2026) sore.
Bencana ini dipicu curah hujan dengan intensitas sangat tinggi yang mengguyur wilayah hulu dan sekitarnya selama berjam-jam, menyebabkan debit air sungai meningkat drastis dan meluap deras menuju pemukiman warga.
Air bah yang membawa lumpur, kayu, dan sampah hutan meluncur cepat dari dataran tinggi, masuk ke jalan utama, pekarangan, hingga ke bagian dalam rumah warga. Dalam waktu singkat, ketinggian Air merendam jalanan, rumah tinggal, fasilitas umum, serta lahan pertanian warga.
Berdasarkan data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bolaang Mongondow, hingga berita ini diturunkan, tercatat lebih dari 120 rumah di kedua desa tersebut terendam sepenuhnya maupun sebagian. Puluhan keluarga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, seperti rumah kerabat, gedung balai Desa, dan tempat ibadah setempat, membawa barang-barang berharga yang sempat diselamatkan.
Arus air yang sangat kuat juga menyebabkan kerusakan pada infrastruktur: akses jalan penghubung antar desa terputus total karena tertutup lumpur dan longsoran tanah, sementara satu jembatan kecil penghubung desa dilaporkan amblas diterjang arus bah, Sebagian besar lahan pertanian dan perkebunan warga, yang menjadi tumpuan hidup utama masyarakat setempat, rusak parah tertimbun lumpur dan puing-puing bawaan air.

“Saya sedang berada di dapur saat mendengar suara gemuruh keras. Tidak lama kemudian air sudah masuk menggenangi rumah, Kami lari menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi, hanya membawa baju dan dokumen penting. Sekarang rumah kami penuh lumpur, barang-barang rusak dan tidak bisa dipakai lagi,” ungkap salah satu warga Desa Solimandungan Dua.
Kepala Pelaksana BPBD Bolaang Mongondow menjelaskan, kejadian ini berlangsung sekitar pukul 16.00 WITA. Hujan deras yang tak berhenti sejak siang hari membuat kapasitas sungai tidak lagi mampu menampung debit air, ditambah kondisi tanah yang sudah jenuh air sehingga mudah longsor dan terbawa arus.
“Tim Reaksi Cepat BPBD bersama unsur TNI, Polri, dan pemerintah desa sudah bergerak ke lokasi sejak kejadian pertama kali dilaporkan, Fokus utama kami saat ini adalah evakuasi warga yang masih terjebak, memastikan keamanan lokasi, pendataan dampak, serta penyaluran bantuan dasar seperti makanan, air bersih, dan selimut bagi warga yang mengungsi,” jelasnya.
Kapolres Bolaang Mongondow, AKBP Lido R Antoro, S.I.K., juga telah menurunkan personel Polsek Bolaang ke lokasi untuk membantu pengamanan, pengaturan lalu lintas, serta mendampingi proses evakuasi. “Kami berkoordinasi erat dengan BPBD dan Pemerintah Daerah, Personel kami siaga penuh di lapangan untuk memastikan tidak ada korban jiwa dan situasi tetap aman,” ujar Kapolres.
Hingga malam hari, air di beberapa titik masih belum surut sepenuhnya. Pemerintah daerah mengimbau seluruh warga di sekitar aliran sungai dan lereng bukit untuk tetap waspada, mengingat cuaca diprediksi masih berpotensi hujan lebat hingga beberapa hari ke depan, Warga juga diminta menjauhi pinggir sungai dan tidak menyeberang saat air masih tinggi dan arus deras.
Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow telah mengerahkan alat berat untuk membersihkan jalanan dari tumpukan lumpur dan puing agar akses kembali bisa dilalui secepat mungkin, Bantuan logistik dan kebutuhan mendesak terus didistribusikan ke posko pengungsian yang telah didirikan di kedua Desa terdampak.
Sampai saat ini belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa, namun kerugian materiil diprediksi mencapai ratusan juta rupiah, mengingat luasnya dampak yang merambah ke pemukiman, pertanian, dan fasilitas umum. Pemerintah pusat dan provinsi juga telah diberi laporan untuk dukungan penanganan lebih lanjut dan pemulihan pasca bencana.
(Andry)



