iMediantara.id – BOLMONG – Media sosial warga Bolaang Mongondow belum lama ini diramaikan promosi rencana Festival Ramadhan (Ramadhan Fest) yang akan digelar oleh PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM), berkolaborasi dengan Pemerintah Desa Bakan dan Karang Taruna setempat.
Agenda bertajuk hiburan live music itu dijadwalkan berlangsung, (25/02/2026), sebagai bentuk hiburan bagi warga yang baru saja dilanda banjir,
Namun ironi terjadi.
Tepat sehari menjelang kegiatan, Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, kembali diterjang banjir lumpur. Sejumlah rumah warga kembali terendam, sementara akses jalan utama desa tertutup material banjir.
Warga menilai banjir kali ini lebih buruk dibandingkan kejadian empat hari sebelumnya. Ironisnya, intensitas hujan dilaporkan tidak terlalu deras, tetapi volume lumpur yang masuk ke permukiman jauh lebih besar.
“Ya Allah, masih ini lebeh parah dp banjir dari 4 hari lalu e… lumpur masuk dalam rumah sementara orang-orang lagi puasa,” tulis seorang warga dalam unggahan Facebook yang kemudian dibanjiri doa dan simpati Selasa 24 Februari 2026.

Banjir sebelumnya terjadi pada Jumat, 20 Februari 2026 sekitar pukul 16.00 WITA, merendam sedikitnya 55 rumah warga dengan lumpur kotor. Rentetan bencana ini memicu kritik terhadap rencana Ramadhan Fest yang dianggap tidak sensitif terhadap kondisi korban.
Sejumlah warga bahkan menduga kegiatan hiburan tersebut sebagai upaya mengalihkan sorotan publik dari persoalan banjir yang kerap terjadi di sekitar kawasan tambang.
“Harusnya perusahaan menggelar doa bersama sebagai empati pasca-bencana, bukan panggung musik,” ungkap beberapa warga dengan nada kecewa.
Kritik terhadap operasional tambang JRBM di wilayah hulu Desa Bakan bukan hal baru. Aktivis lingkungan Bolaang Mongondow Raya, Didi Musa (Dimus), sebelumnya telah menyoroti dugaan persoalan tata kelola lingkungan perusahaan.
Menurut Dimus, posisi geografis area tambang yang berada lebih tinggi dari Desa Bakan menjadikan perusahaan sebagai sumber utama limpasan material saat hujan. Tahun lalu, tiga tanggul penyangga milik perusahaan dilaporkan jebol, menyebabkan material batuan dan lumpur meluncur ke wilayah hilir.
Ia juga mengingatkan potensi bahaya kimia dari material banjir, termasuk kemungkinan kandungan logam berat seperti seng, merkuri, dan senyawa metil logam. Jika material berasal dari tailing atau sedimen tambang, risiko kesehatan masyarakat dan kerusakan lahan pertanian menjadi serius.
Dimus mendesak pemerintah melakukan dua langkah penting, pertama Uji laboratorium material banjir oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kabupaten dan provinsi.
Kedua Investigasi kawasan oleh Satgas PKH untuk memastikan sumber material dan potensi pelanggaran lingkungan.
(Anmel)



