sejumlah pertanyaan mendasar belum terjawab sentil Dimus.
iMediantara.id BOLMONG – Berapa kapasitas tanggul dan kolam sedimen JRBM? Apakah desainnya memenuhi standar hujan ekstrem Sulawesi? Berapa volume sedimen yang lolos ke hilir tiap tahun? Apakah ada kompensasi resmi untuk warga Bakan? Dan Apakah AMDAL pernah dievaluasi ulang.
Lanjut pria yang cukup aktif di media sosial itu mengatakan tanpa transparansi data hidrologi tambang, publik sulit mempercayai bahwa banjir ini murni alam. Banjir Desa Bakan tidak lagi dapat dipahami sebagai fenomena alam biasa.
Banyak keterangan warga mengatakan banjir muncul setelah tambang beroperasi. Fakta dilapangan, tanggul tambang pernah jebol, desa berada di hilir konsesi,material lumpur berasal dari hulu tambang,kejadian berulang tiap musim hujan.
“Semua indikator tersebut mengarah pada satu kesimpulan keras, banjir Bakan adalah bencana struktural akibat perubahan lanskap tambang skala besar,”katanya.

Sebagai penutup Dimus menegaskan Jika uji laboratorium membuktikan material banjir berasal dari aktivitas tambang, maka konsekuensinya tidak hanya teknis, tetapi hukum dan perizinan.
Jawaban atas pertanyaan mendasar yang dinanti publik hingga Selasa malam 23 Februari 2026 belum terjawab.
Salah satu Humas PT.JRBM yang dihubungi Via WhatsApp belum memberikan jawaban saat di konfirmasi hingga berita ini diturunkan.
(Anmel)



